Praktik Iktikaf Rasulullah di 10 Malam Terakhir Ramadhan

Praktik Iktikaf Rasulullah di 10 Malam Terakhir Ramadhan

Nabi Muhammad saw dikenal sebagai sosok yang sangat tekun dalam beribadah. Rasulullah tak pernah melewatkan kesempatan untuk memperbanyak amal kebaikan, terlebih di bulan suci Ramadhan. 

Baca Juga:

Triple Surprise Suzuki di GIIAS 2023: Menangkan Jimny, Logam Mulia Hingga Voucher Wisata

Salah satu amalan rutin yang dijalankan adalah i'tikaf.   Pengertian I'tikaf I'tikaf secara bahasa berarti berdiam diri. Dalam konteks ibadah, i'tikaf diartikan sebagai berdiam diri di masjid dalam rangka fokus beribadah kepada Allah swt. 

Tujuan utama dari i'tikaf adalah untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah.    Dengan memfokuskan diri di masjid dan mengurangi urusan duniawi, diharapkan para mu'takif (orang yang melaksanakan i'tikaf) bisa memperbanyak ibadah seperti shalat, membaca Al-Quran, berdzikir, dan berdoa.   

I'tikaf Rasulullah Terlebih, pada 10 malam terakhir Ramadhan, Nabi Muhammad saw semakin giat dalam beribadah dan beliau selalu melaksanakan i'tikaf. 

Hal ini menunjukkan keistimewaan 10 hari terakhir Ramadhan dan peluang besar untuk mendapatkan malam lailatul qadar.   

Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari, pada Bab Al-'Amal fil Asyril Awakhiri min Ramadhan, menjelaskan bahwa Nabi saw senantiasa membangunkan keluarganya untuk mempersiapkan keperluan i'tikaf dan mengencangkan ikat pinggangnya sebagai tanda kesungguhan dalam beribadah.   

Artinya, "Nabi Muhammad saw, ketika 10 hari terakhir bulan Ramadhan tiba, beliau tidak pernah membiarkan anggota keluarganya yang mampu untuk melakukan salat malam (qiyamul lail) untuk meninggalkannya. Beliau selalu mengajak mereka untuk bangun dan shalat." (HR At-Tirmdizi).   

Dalam Shahih Al-Bukhari sebagaimana hadis yang bersumber dari Aisyah ra diriwayatkan, Nabi saw apabila memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, beliau mengikat kain izarnya lebih erat, menghidupkan malamnya dengan ibadah, dan membangunkan keluarganya untuk beribadah.   

Hadis ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad saw menjadikan 10 hari terakhir Ramadhan sebagai waktu yang istimewa untuk meningkatkan kualitas ibadahnya. 

Nabi tidak hanya beribadah sendiri, tetapi juga mengajak keluarganya untuk ikut serta.    

Artinya; "Ismail bin Abdullah meriwayatkan dari Ibnu Wahb, dari Yunus, dari Nafi', dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, beliau berkata, "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa beriktikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan." (HR Al-Bukhari). (Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fathul Bari, [Kairo, Dar Rayyan lit Turats: 1986 M], jilid IV, halaman 318).   

Hadits lain menjelaskan kebiasaan Nabi Muhammad saw yang selalu melakukan i'tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Kebiasaan ini dicatat oleh Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Tafsir Ad-Durrul Mantsur, dan bersumber dari riwayat riwayat Ad-Daratquthuni dan Al-Baihaqi dalam Bab Syu'abul Iman, yang disampaikan oleh Aisyah. 

Bahkan, kebiasaan tersebut dilanjutkan oleh istri-istri beliau setelah Nabi Muhammad SAW wafat.   

Artinya, "Dari Aisyah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa beri'tikaf pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan sampai beliau wafat. Kemudian, istri-istrinya beri'tikaf setelah beliau wafat." (HR Ad-Daraquthni dan Al-Baihaqi).   

Dalam hadits lain lagi, Nabi Muhammad saw tercatat memperpanjang waktu i'tikaf di tahun terakhir beliau wafat. I'tikaf yang biasanya dilakukan selama 10 hari, di tahun terakhir wafatnya, Nabi Muhammad saw melaksanakan selama 20 kali.  

Advertisement